Budaya Gotong Royong Sebagai Motor Penggerak Ekonomi Kerakyatan
Budaya gotong royong saling membantu yang telah lama hidup di tengah masyarakat harus terus dilestarikan.
Sebab, gotong royong adalah solusi atas berbagai persoalan yang ada. Utamanya bila terjadi persoalan dan musibah.
Hal ini disampaikan Gubernur Jawa Timur Soekarwo pada Puncak Peringatan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat KV dan Hari Kesatuan Gerak PKK 2018 Jawa Timur di Aloon-Aloon Ponorogo, Senin (12/11/2018).
Dikatakannya, dalam banyak kejadian, gotong royong menjadi sebuah pemecahan masalah dari persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
“Saat Desa Banaran, Ponorogo, mengalami bencana longsor, semua orang dari berbagai daerah ikut membantu dan persoalan segera terselesaikan. Saat Pacitan terkena banjir, semua saling tolong-menolong. Saat Sapudi terkena gempa, relawan dari berbagai daerah bahu membahu. Dan, semua bisa segera terselesaikan,” ungkapnya.
Budaya gotong royong sudah lama dikenal oleh bangsa Indonesia. Di tiap wilayah di Indonesia kultur ini hidup meski namanya berbeda-beda. “Karena itulah gotong royong harus diuri-uri, harus dilestarikan,” ungkapnya.
Puncak BBGRM sengaja dijadikan satu dengan Hari Kesatuan Gerak PKK. Sebab menurut birokrat yang akrab disapa Pakde Karwo ini, sikap kegotongroyongan paling terlihat dalam kelompok-kelompok PKK. Apalagi, PKK memiliki organisasi yang menyentuh hingga ke tingkat yang lebih dalam dari RT, yaitu dasa wisma.
“Dasa wisma PKK inilah yang saling bahu-membahu menyelesaikan persoalan di sekitar mereka. Mereka jadi ujung tombak dalam penyelesaian masalah, sampai masalah ekonomi keluarga. Mereka juga sering jadi ujung tombok, ya tombok karena mereka ini tidak dibayar dalam berkegiatan tapi ikhlas melaksanakannya. Kadang sampai harus mengeluarkan uang sendiri untuk berkegiatan,” ucapnya.
Dalam kegiatan ini, sejumlah kepala daerah di sekitar Ponorogo tampak turut menghadiri acara. Sejumlah penghargaan untuk lomba gotong royong diserahkan kepada para pemenang dari masing-masing daerah.
Sejumlah anggota PKK juga mendapatkan pin emas sebagai penghargaan pengabdiannya. Dilaksanakan pula penyerahan trofi dan piagam untuk kelompok PKK yang memenangkan lomba pelaksanaan 10 program pokok PKK tingkat Jawa Timur.
Usai melakukan pemukulan gong puncak peringatan, Pakde Karwo membuka pameran produk unggulan daerah yang digelar di selatan area acara. Orang nomor satu di Jawa Timur ini sempat mencicipi dawet jabung asli Ponorogo yang disuguhkan salah satu stan. Juga sempat menikmati kopi asli Ponorogo. Pakde Karwo juga sempat berhenti di salah satu stan usaha mikro dan meneliti kemasannya. (Ny/Ast)
Sebab, gotong royong adalah solusi atas berbagai persoalan yang ada. Utamanya bila terjadi persoalan dan musibah.
Hal ini disampaikan Gubernur Jawa Timur Soekarwo pada Puncak Peringatan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat KV dan Hari Kesatuan Gerak PKK 2018 Jawa Timur di Aloon-Aloon Ponorogo, Senin (12/11/2018).
Dikatakannya, dalam banyak kejadian, gotong royong menjadi sebuah pemecahan masalah dari persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
“Saat Desa Banaran, Ponorogo, mengalami bencana longsor, semua orang dari berbagai daerah ikut membantu dan persoalan segera terselesaikan. Saat Pacitan terkena banjir, semua saling tolong-menolong. Saat Sapudi terkena gempa, relawan dari berbagai daerah bahu membahu. Dan, semua bisa segera terselesaikan,” ungkapnya.
Budaya gotong royong sudah lama dikenal oleh bangsa Indonesia. Di tiap wilayah di Indonesia kultur ini hidup meski namanya berbeda-beda. “Karena itulah gotong royong harus diuri-uri, harus dilestarikan,” ungkapnya.
Puncak BBGRM sengaja dijadikan satu dengan Hari Kesatuan Gerak PKK. Sebab menurut birokrat yang akrab disapa Pakde Karwo ini, sikap kegotongroyongan paling terlihat dalam kelompok-kelompok PKK. Apalagi, PKK memiliki organisasi yang menyentuh hingga ke tingkat yang lebih dalam dari RT, yaitu dasa wisma.
“Dasa wisma PKK inilah yang saling bahu-membahu menyelesaikan persoalan di sekitar mereka. Mereka jadi ujung tombak dalam penyelesaian masalah, sampai masalah ekonomi keluarga. Mereka juga sering jadi ujung tombok, ya tombok karena mereka ini tidak dibayar dalam berkegiatan tapi ikhlas melaksanakannya. Kadang sampai harus mengeluarkan uang sendiri untuk berkegiatan,” ucapnya.
Dalam kegiatan ini, sejumlah kepala daerah di sekitar Ponorogo tampak turut menghadiri acara. Sejumlah penghargaan untuk lomba gotong royong diserahkan kepada para pemenang dari masing-masing daerah.
Sejumlah anggota PKK juga mendapatkan pin emas sebagai penghargaan pengabdiannya. Dilaksanakan pula penyerahan trofi dan piagam untuk kelompok PKK yang memenangkan lomba pelaksanaan 10 program pokok PKK tingkat Jawa Timur.
Usai melakukan pemukulan gong puncak peringatan, Pakde Karwo membuka pameran produk unggulan daerah yang digelar di selatan area acara. Orang nomor satu di Jawa Timur ini sempat mencicipi dawet jabung asli Ponorogo yang disuguhkan salah satu stan. Juga sempat menikmati kopi asli Ponorogo. Pakde Karwo juga sempat berhenti di salah satu stan usaha mikro dan meneliti kemasannya. (Ny/Ast)

0 Response to "Budaya Gotong Royong Sebagai Motor Penggerak Ekonomi Kerakyatan"
Post a Comment